FPKS Selenggarakan Baca Puisi ‘Merawat Ingatan Menumbuhkan Kota’ di Balai Pemuda Surabaya

Surabaya, sebuah kota yang kaya akan sejarah dan budaya, akan menjadi saksi dari sebuah perayaan yang menggabungkan seni dan memori kolektif. Forum Pegiat Kesenian Surabaya (FPKS), yang telah aktif sejak April 2025, berkomitmen untuk merayakan Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Jadi Kota Surabaya ke-733 dengan menggelar acara baca puisi bertema “Merawat Ingatan, Menumbuhkan Kota”. Acara ini dijadwalkan berlangsung pada 23 Mei 2026, mulai pukul 18.30 hingga 21.00, di Pelataran Sisi Timur Balai Pemuda, Jl. Gubernur Suryo 15. Dalam rangkaian acara ini, para penyair dari Surabaya dan sekitarnya akan menampilkan karya-karya yang merespons tema penting ini.
FPKS: Sebuah Komunitas Kreatif di Surabaya
Sejak peluncurannya, FPKS telah melaksanakan berbagai kegiatan yang mencakup beragam bidang seni. Dalam waktu satu tahun, komunitas ini telah menyelenggarakan sepuluh acara yang berfokus pada sastra, tari, teater, musik, seni rupa, orasi budaya, serta workshop penulisan kreatif dan penerbitan buku antologi puisi. Semua kegiatan tersebut diselenggarakan di Kompleks Balai Pemuda Surabaya, dengan dukungan dari masyarakat melalui saweran. Hal ini menunjukkan komitmen FPKS untuk menghidupkan kembali seni dan budaya di kota ini.
Perayaan Melalui Puisi
Acara baca puisi yang diadakan oleh FPKS bertujuan untuk menyoroti pentingnya memori kolektif dalam konteks urban yang terus berkembang. Jil Kalaran, Koordinator FPKS, menyatakan bahwa seni dan ingatan saling terkait erat. Dalam era modern yang penuh dengan pembangunan dan industrialisasi, seni berfungsi sebagai pengingat akan esensi sebuah kota. Melalui puisi dan seni lainnya, kita dapat merenungkan identitas kota dan mengingat kembali nilai-nilai yang membentuk Surabaya.
Memori Kolektif dan Seni
Surabaya bukan sekadar tempat tinggal; ia adalah hasil dari sejarah panjang yang terjalin melalui berbagai narasi perjuangan dan pengalaman masyarakatnya. Memori kolektif tidak selalu tersimpan dalam bentuk arsip resmi atau monumen monumental. Sebaliknya, ia hidup dalam praktik seni yang beragam, mulai dari pertunjukan teater di kawasan pemukiman hingga mural yang menghiasi dinding kota. Kesenian ini menjadi medium untuk menghidupkan kembali pengalaman dan cerita yang seharusnya tidak terlupakan.
Seni sebagai Pengingat
Dalam konteks ini, seni mengambil peran krusial sebagai penyimpan dan pengaktif ingatan bersama. Karya seni mampu menggambarkan pengalaman sehari-hari masyarakat yang seringkali terabaikan dalam catatan sejarah formal. Seni berbicara tentang perubahan ruang kota, kehilangan yang dialami masyarakat, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Di tengah proses modernisasi yang terus berlangsung, seni berfungsi sebagai “penjaga ingatan”, memastikan bahwa identitas kultural yang telah ada tidak hilang begitu saja.
Pentingnya Ruang Refleksi dalam Kesenian
Seni tidak hanya berfungsi untuk menjaga memori, tetapi juga sebagai ruang refleksi kritis terhadap kondisi sosial yang ada. Dalam era industrialisasi yang sering kali membawa dampak negatif seperti ketimpangan sosial dan alienasi, kesenian memberikan bahasa untuk merespons dan mengkritisi situasi tersebut. Ia menciptakan dialog antara masa lalu dan masa kini, serta antara pembangunan dan kemanusiaan, sehingga seni memainkan peran penting dalam menegosiasikan arah masa depan kota.
Dukungan terhadap Praktik Kesenian
Oleh karena itu, keberadaan dan dukungan terhadap praktik seni di Surabaya sangatlah penting. Tanpa seni, kota ini berisiko menjadi sekadar ruang produksi yang kosong dari makna. Dengan seni, Surabaya dapat terus tumbuh sebagai kota yang tidak hanya maju dalam aspek ekonomi, tetapi juga kaya akan nilai-nilai budaya. Kesenian mencerminkan kesadaran sebuah kota akan sejarahnya dan arah yang ingin dituju di masa depan.
Para Penyair yang Berpartisipasi
Acara baca puisi ini akan melibatkan sejumlah penyair berbakat, di antaranya:
- Denting Kemuning
- Henri Nurcahyo
- Rohmat Djoko Prakosa
- Mita (Aixa Paramita)
- Desemba Sagita T
- Imung Mulyanto
- Amang Mawardi
- Zoya Herawati
- Nanda Alifya Rahmah
- Sasetyo Wilutomo
- Aming Aminoedhin
- Peni Citrani Puspaning
- Deny Tri Aryanti
- Adnan Guntur – Saung Teater
- Bima Still The One – Saung Teater
- mFido Fachrezi – Teater Kembang Api
- Ahmad Ilmi Umar Faruq (Arfy) – Teater Gapus Surabaya
- Eka Purbowati – Teater Gapus Surabaya
- Tri Wulaning Purnami
- Widodo Basuki
Dengan melibatkan beragam penyair, FPKS berharap dapat menyajikan berbagai perspektif mengenai tema “Merawat Ingatan, Menumbuhkan Kota” dan memberikan ruang bagi suara-suara kreatif untuk berbagi cerita dan pengalaman mereka.
Acara ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga merupakan langkah konkret untuk meneguhkan kembali pentingnya seni dalam menjaga dan merawat ingatan kolektif masyarakat Surabaya. Melalui puisi, kita diajak untuk merenungkan kembali makna dari sejarah dan identitas kota yang kita cintai, serta bersama-sama membayangkan masa depan yang lebih baik. Dengan semangat kolaborasi, FPKS berkomitmen untuk terus menghidupkan seni dan budaya di Surabaya, menjadikannya sebagai bagian integral dari kehidupan masyarakat.
